Gue inget banget momen pas masih kuliah di kota orang, duduk di kamar kos sempit, buka laptop, dan tiba-tiba panik sendiri. Bukan gara-gara tugas numpuk, tapi gara-gara pertanyaan yang muncul di kepala: "Setelah lulus, gue mau ngapain ya?" Kalau kamu mahasiswa rantau, kemungkinan besar kamu pernah ngerasain hal yang sama.
Bedanya sama temen yang kuliah di kota asal, kita nggak punya jaring pengaman. Nggak ada rumah buat pulang kalau gagal interview, nggak ada ortu yang bisa langsung nyambungin ke kenalan kantor. Semua harus diurus sendiri, kadang sambil nahan homesick. Wajar kalau pertanyaan soal kerja jadi terasa lebih berat.
Baca juga: Freelancer Ditanya "Kenapa Nggak Kerja Kantor?" Jawabannya Bikin Klien Respect
Nah, di artikel ini gue mau jawab pertanyaan-pertanyaan yang paling sering muncul soal dunia kerja, karier, dan interview — khusus dari sudut pandang kita yang ngerantau. Bukan jawaban textbook, tapi versi yang gue alami sendiri dan gue denger dari temen-temen sesama anak kos.
"Kapan sih harus mulai nyari kerja? Baru semester akhir, apa dari sekarang?"
Ini pertanyaan nomor satu yang paling sering gue denger. Jawaban jujurnya: jangan nunggu semester akhir. Bukan berarti kamu harus langsung kerja sambil kuliah, tapi mulai bangun "modal" dari sekarang.
Modal itu bukan cuma IPK. Menurut gue, yang lebih penting buat anak rantau adalah jaringan dan pengalaman. Ikut organisasi, jadi panitia acara kampus, atau coba magang di semester 5-6. Kenapa? Karena pas kamu lulus dan mulai ngelamar kerja, kamu nggak mulai dari nol. Kamu punya cerita buat diceritain di interview.
Gue dulu sempat nunda magang karena mikir "nanti aja, masih sibuk". Ujung-ujungnya pas lulus, CV gue kosong melompong dan bingung mau nulis apa. Jangan ulangin kesalahan gue.
"Interview pertama pasti gagal ya? Gue takut banget ditanya soal gaji."
Nggak harus gagal, tapi jujur aja — kemungkinan besar interview pertamamu nggak mulus. Dan itu normal banget. Bahkan orang yang sekarang kerja di perusahaan bagus pun biasanya punya cerita interview gagal di belakangnya.
Soal pertanyaan gaji, ini yang bikin banyak anak rantau keringetan. Tips dari gue: sebelum interview, cari tahu dulu kisaran gaji untuk posisi itu di kotamu. Buka job portal, lihat angka yang muncul. Jadi pas ditanya, kamu nggak asal sebut angka.
Kalau ditanya "ekspektasi gaji kamu berapa?", kamu bisa jawab santai: "Dari riset saya untuk posisi ini di kisaran X sampai Y, tapi saya terbuka untuk diskusi sesuai tanggung jawab dan benefit yang diberikan." Nggak perlu malu nyebut angka. Kamu juga butuh makan, apalagi hidup merantau.
Ingat: interview itu bukan ujian yang harus kamu lulus sempurna. Ini percakapan dua arah — kamu juga lagi menilai apakah perusahaan ini cocok buat kamu.
"Gimana cara jawab 'kenapa kamu mau kerja di sini?' tanpa keliatan bohong?"
Pertanyaan klasik yang bikin banyak orang ngegugurkan jawaban jadi "karena saya butuh kerja". Wajar sih, tapi tentu nggak bisa diucapin gitu aja.
Caranya: hubungkan jawabanmu dengan hal konkret dari perusahaan itu. Sebelum interview, luangkan 15 menit buat baca website atau akun sosial media mereka. Cari satu hal yang bikin kamu tertarik — produknya, cara kerjanya, atau nilai perusahaannya.
Terus kaitkan dengan pengalamanmu. Contoh: "Saya tertarik karena perusahaan ini fokus di bidang X, dan waktu kuliah saya pernah terlibat di proyek serupa. Saya pengen belajar lebih dalam di sini." Simpel, jujur, dan nggak keliatan ngarang.
Yang sering dilupain anak rantau: siapin cerita soal diri sendiri
Pertanyaan "ceritain tentang diri kamu" itu bukan basa-basi. Ini kesempatan buat kamu nunjukin siapa kamu. Banyak anak rantau — termasuk gue dulu — malah jawab seadanya karena ngerasa nggak punya prestasi mentereng.
Padahal cerita merantau itu sendiri udah kuat. Kamu bisa ceritain gimana kamu belajar mandiri, ngatur uang kiriman ortu, atau nyelesaiin masalah sendirian jauh dari rumah. Itu semua nunjukin resiliensi — hal yang dicari banyak perusahaan.
"Kalau udah keterima, gimana ngatur hidup di kota rantau dengan gaji pertama?"
Ini pertanyaan yang jarang dibahas tapi penting banget. Gaji pertama itu godaan besar. Tiba-tiba kamu punya uang sendiri, dan rasanya pengen beli ini-itu sebagai "hadiah" karena udah susah payah.
Gue nggak bilang jangan seneng-seneng. Tapi buat anak rantau, ada prioritas yang harus didahulukan: dana darurat. Minimal kamu punya tabungan yang cukup buat hidup 1-2 bulan kalau-kalau ada apa-apa. Karena kamu nggak punya rumah buat pulang mendadak, dana darurat ini penyelamatmu.
Setelah itu baru sisihkan buat seneng-seneng. Nggak perlu pelit sama diri sendiri, tapi jangan juga habis di bulan pertama cuma buat nongkrong dan belanja online.
Pertanyaan yang nggak pernah ditanya tapi perlu kamu jawab sendiri
Selain pertanyaan di atas, ada satu hal yang menurut gue paling sering diabaikan: "Kamu mau karier yang kayak gimana, sih?"
Banyak anak rantau — lagi-lagi termasuk gue — terjebak ngejar kerja apa aja yang penting dapet, tanpa mikir arah. Nggak salah sih, apalagi kalau kamu butuh cepat menghasilkan. Tapi coba luangkan waktu buat mikir: dalam 3-5 tahun, kamu pengen jadi apa?
Nggak harus punya jawaban pasti sekarang. Yang penting kamu mulai mikir dan nggak cuma ikut arus. Karier itu maraton, bukan sprint. Dan buat kita yang merantau, arah yang jelas bikin langkah jadi lebih ringan.
Jadi kalau kamu lagi panik mikirin kerja dan interview, tarik napas dulu. Semua orang lewat jalan yang mirip. Yang bikin beda cuma satu: siapa yang mulai nyiapin dari sekarang, dan siapa yang nunggu sampai deg-degan di menit terakhir.