Gue freelancer sejak 2019. Selama itu pula gue hidup dengan satu kebiasaan buruk: bilang "iya" ke hampir semua tawaran proyek. Klien minta revisi lima kali? Iya. Bayaran telat dua bulan? Iya, sambil senyum pahit di depan layar. Deadline seminggu untuk kerjaan yang jelas-jelas butuh tiga minggu? Iya lagi.
Bulan lalu, gue iseng ikut tantangan kecil-kecilan dari komunitas freelancer: selama 30 hari, coba naikkan tarif 30 persen dan tolak minimal satu proyek yang "meragukan". Nggak ada target muluk. Cuma eksperimen. Tapi hasilnya bikin gue mikir ulang soal cara gue kerja selama ini.
Baca juga: Anak Rantau, Gue Kasih Jatah 7 Hari Buat Beresin Karier
Minggu Pertama: Deg-degan Kayak Interview Pertama
Jujur ya, hari pertama gue kirim penawaran dengan tarif baru, tangan gue gemeter. Bukan lebay, tapi beneran. Ada rasa takut klien lama bakal kabur, atau calon klien baru langsung ghosting begitu lihat angkanya.
Dan... satu klien lama memang kabur. Dia bales singkat: "Wah, naik ya? Nanti gue pikir-pikir dulu." Sampai sekarang nggak ada kabar. Awalnya gue panik. Tapi anehnya, panik itu cuma bertahan sehari. Besoknya gue sadar: kalau dia nggak sanggup bayar tarif itu, berarti dari awal kerja sama kita memang nggak sehat.
Yang lebih mengejutkan, dua calon klien baru justru langsung setuju. Nggak nawar. Nggak nanya "bisa kurang?". Malah ada yang bilang, "Tarif segini wajar kok untuk scope kerjaan ini." Gue mau nangis campur bingung.
Yang Berubah Bukan Cuma Rezeki, Tapi Kepala
Ini bagian yang paling nggak gue duga. Selama sebulan itu, yang berubah bukan cuma jumlah pemasukan. Tapi juga isi kepala gue.
Dulu, tiap buka WhatsApp atau email, gue selalu siap siaga. Takut ada klien komplain, takut ada revisi mendadak, takut ada yang minta diskon. Sekarang? Gue masih buka WhatsApp, tapi nggak deg-degan lagi. Karena gue tahu, klien yang sekarang gue pegang adalah mereka yang memang menghargai kerja gue.
Freelancer itu bukan tukang jahit yang harus nerima semua orderan. Kita juga punya hak buat milih siapa yang layak kita layani.
Ada satu momen yang bikin gue sadar betul. Seorang calon klien minta gue kerja lembur tiga malam berturut-turut dengan bayaran di bawah standar. Dulu, gue bakal iyain sambil ngeluh di dalam hati. Sekarang, gue bilang dengan sopan: "Maaf, buat timeline secepat itu, tarifnya beda ya." Dia nggak jadi pakai jasa gue. Tapi gue tidur nyenyak malam itu. Serius, itu pertama kali gue tidur nyenyak setelah nolak proyek.
Efek Samping yang Nggak Gue Sangka
Ada beberapa efek samping aneh dari eksperimen sebulan ini:
- Gue jadi lebih produktif. Karena klien lebih sedikit tapi bayarannya lebih layak, gue bisa fokus. Nggak lagi kerja setengah-setengah untuk sepuluh proyek sekaligus.
- Gue berani nanya hal-hal detail. Dulu gue sungkan nanya scope kerjaan, takut klien kabur. Sekarang gue justru nanya detail banget, dan klien serius malah menghargai itu.
- Gue mulai punya waktu buat diri sendiri. Ini yang paling kerasa. Sebulan ini gue sempat olahraga rutin dan baca buku. Dulu? Nggak sempat, karena tiap malam lembur ngerjain revisi yang nggak dibayar.
Bukan Soal Berapa Angkanya, Tapi Soal Ngeliat Diri Sendiri
Gue nggak mau sok-sokan bilang eksperimen ini sukses total. Ada kok minggu di mana gue cemas karena proyek sepi. Ada juga hari di mana gue hampir balik ke kebiasaan lama, hampir nerima proyek murah cuma karena takut nggak ada kerjaan.
Tapi sebulan ini ngajarin gue satu hal yang nggak pernah gue dapet dari artikel manapun: freelancer itu bukan cuma soal skill, tapi soal harga diri. Kalau kita sendiri nggak yakin dengan nilai kerja kita, klien juga nggak akan yakin. Sebaliknya, begitu kita berani pasang harga dan berdiri di belakangnya, orang lain ikut menghargai.
Gue nggak tahu apakah gue bakal terus pakai tarif ini selamanya. Tapi satu hal yang pasti: gue nggak mau balik ke versi gue yang dulu, yang bilang "iya" ke semua orang sambil ngerasa kecil. Buat kamu yang lagi di fase ragu naikin tarif atau nyaring klien, coba deh sebulan aja. Nggak usah ekstrem. Cukup naikin sedikit dan lihat apa yang terjadi. Siapa tahu, kamu juga bakal ketagihan nolak klien yang nggak layak.